Last modified: 2025-07-31
Abstract
Gajah dikategorikan sebagai megafauna karismatik yang perlu dikonservasi dan pada saat yang sama juga kerap dipandang sebagai sumber konflik dalam relasinya dengan manusia. Untuk memahami historisitas relasi gajah-manusia pada masa kini, penelitian ini menjawab bagaimana poetika gajah ditampilkan dalam teks-teks sastra Melayu melalui pembacaan jauh pada korpus digital Malay Concordance Project. Gajah dengan berbagai turunannya (gajah, gajahan, gajahnya, gajahku, gajah-gajahan) muncul dalam lima teks teratas: Hikayat Hang Tuah, Hikayat Panji Kuda Semirang, Sejarah Melayu, Hikayat Aceh, dan Hikayat Pandawa Lima. Gajah menjadi sarana untuk mengartikulasikan otoritas dan kekuasaan raja serta menyelenggarakan perang dalam rangka pembentukan negara; pada sisi lain yang terbatas, gajah diasosiasikan dengan alam liar (gajah rimba). Hal ini menunjukkan bahwa gajah, terlepas dari keliarannya, menempati posisi penting bagi peradaban alih-alih membentuk dikotomi yang kaku antara liar dan beradab. Penelitian ini mengimplikasikan pemahaman bahwa historisitas atau kesejarahan relasi gajah-manusia dari waktu ke waktu tidak stabil—menjadi bagian penting negara hingga dipandang sebagai ancaman bagi manusia dan pembangunan. Alih-alih melihat gajah sebagai makhluk liar, pemahaman ini menggarisbawahi upaya konservasi masa kini dengan menimbang hubungan interdependensi antara gajah dan manusia.