Last modified: 2025-09-18
Abstract
Gajah dikategorikan sebagai megafauna karismatik yang perlu dikonservasi dan pada saat yang sama juga kerap dipandang sebagai sumber konflik dalam relasinya dengan manusia. Untuk memahami historisitas relasi gajah-manusia pada masa kini, penelitian ini menjawab bagaimana poetika gajah ditampilkan dalam teks-teks sastra Melayu melalui pembacaan jauh pada korpus digital Malay Concordance Project. Gajah dengan berbagai turunannya (gajah, gajahan, gajahnya, gajahku, gajah-gajahan) muncul dalam lima teks teratas: Hikayat Hang Tuah, Hikayat Panji Kuda Semirang, Sejarah Melayu, Hikayat Aceh, dan Hikayat Pandawa Lima. Gajah menjadi sarana untuk mengartikulasikan otoritas dan kekuasaan raja serta menyelenggarakan perang; pada sisi lain yang terbatas, gajah diasosiasikan dengan alam liar (gajah rimba). Hal ini menunjukkan bahwa gajah, terlepas dari keliarannya, menempati posisi penting bagi peradaban alih-alih membentuk dikotomi yang kaku antara liar dan beradab. Penelitian ini mengimplikasikan pemahaman bahwa historisitas atau kesejarahan relasi gajah-manusia dari waktu ke waktu tidak stabil—menjadi bagian penting bagi kekuasaan hingga dipandang sebagai ancaman bagi manusia dan pembangunan. Alih-alih melihat gajah sebagai makhluk liar, pemahaman ini menggarisbawahi upaya konservasi masa kini dengan menimbang hubungan interdependensi antara gajah dan manusia.