Last modified: 2025-10-20
Abstract
Tubuh perempuan, melalui siklus menstruasi, merepresentasikan ritme purba yang serupa dengan bumi: berulang dan menopang kehidupan. Namun dalam tata kelola lingkungan modern, ritme ini kerap dipinggirkan dari wacana ekologis. Limbah menstruasi—terutama pembalut sekali pakai—menghasilkan residu plastik, klorin, dan jejak karbon yang tidak kasatmata dan mengancam ekosistem. Persoalan ini tidak dapat dipisahkan dari kerangka ekofeminisme kontemporer, yang sejak Françoise d’Eaubonne (1920–2005) menandaskan keterhubungan antara penindasan terhadap perempuan dan eksploitasi alam. Vandana Shiva menyoroti bagaimana “monokultur pikiran” patriarki menghancurkan keragaman hayati sebagaimana ia mengekang tubuh perempuan. Dari perspektif ini, ketiadaan fasilitas sanitasi yang layak, seperti tempat sampah untuk pembalut, bukan sekadar masalah teknis. Ia mencerminkan struktur sosial yang gagal menghormati tubuh sebagai subjek ekologis. Di sinilah kecemasan filosofis dan teologis berkelindan: apakah mungkin menyelamatkan bumi jika tubuh yang membawa kehidupan justru terus diabaikan?
Kata Kunci: Ekofeminisme, Menstruasi, Pembalut, Patriarki, Tempat Sampah