Last modified: 2024-10-11
Abstract
Brutalitas aparat beberapa tahun terakhir menjadi sebuah fenomena yang mengganggu kehidupan bermasyarakat, bahkan menimbulkan ancaman terhadap subjektivitas individu. Brutalitas aparat atau bisa disebut sebagai “terorisme negara” adalah salah satu ketakutan terhadap aparat keamanan dengan berdalih mengamankan dan menertibkan, namun justru menjadi subjek eksekutor terhadap masyarakat. Berkedok “mengayomi masyarakat” padahal bentuk lain dari “mengontrol masyarakat” dengan menargetkan kelompok masyarakat tertentu dan memiliki motif menebarkan ketakutan dengan dalih mencegah kegaduhan. Data dari 2005-2014 menunjukkan siginifikansi brutalitas aparat sebagai eksekutor hak asasi manusia, belum lagi dari tahun 2014-2023 masih banyak brutalitas yagn terjadi. Secara metodologis, penelitian ini bertumpu pada perspektif kritis-filosofis dengan manawarkan dialog studi agama-humaniora. Hasil memperlihatkan bahwa aparatus negara menjadi salah satu penyebab terjadinya brutalitas terhadap kehidupan manusia dan mengancam hak asasi manusia. Aparatus negara menjadi terorisme negara. Kapitalisme dengan bercampur rasisme dan diskriminasi mengecam hubungan masyarakat yang saling peduli menjadi saling mengawasi, maka membuat aparatus negara dibuat seolah menengahi persoalan.